hangat. ... the warmes of the soul
sudah lama saya g melihat mentari pagi, tidur jam 4 pagi bangun jam 12 siang dan begitu seterusnya
mungkin sama lamanya dengan saya g menengok pojokan ini lagi,
hari ini saya pulang,
tidur di kamar kesayangan saya,
melihat mentari terbit dari jendela yang sama
entahlah kenapa hari ini saya malas untuk beranjak tidur, Lagi
mungkin hangat mentari mencoba memanggil saya kembali,
kembali untuk hidup
banyak waktu terbuang beberapa waktu ini
seolah saya kehilangan pedoman siapa diri saya ini sebenarnya
tersapu oleh gemilap dunia,
ya dunia,
"donya" orang jawa bilang,
artinya kurang lebih harta, kekayaan, pangkat semua yang duniawi
its hard enough to discuss in this beatifull morning,
cerita aja tentang indahnya pagi berbingkai jendela kamar saya ya,
sinar mentari pagi perlahan membasuh kulit
menyapu dingin malam yang seolah enggan beranjak pergi
begitu lama, terlalu lama aq bersembunyi di tabir malam yang penuh ilusi
memaki diri dalam jeruji hati
dan pagi begitu indah tuk dilewatkan begitu saja
seperti pagi-pagi lainnya
sepasang burung gereja berkejaran diantara semak belukar
diantara bunga rumput
indah tak terjamah
dan sekarang waktu meloncat keluar dari kamar, dan bermandikan cahaya surya,
good morning every body. ..
dalam lembaran ini
aku mencoba membagi kehidupanku,
pikiranku, cintaku, dengan semua orang.
karena hidup untuk berbagi...
Senin, 30 Juli 2012
Senin, 26 Desember 2011
nenek dengan keranjang
terseok dengan keranjang terikat di punggung
berjalan seiring liuk mesra jalan pegunungan
diasapi serentetan truk penuh muatan
menuju sebuah kota harapan
harapan akan kehidupan
dan secercah terang mentari
tak ada lagi lelah menggelanyut
terhapus oleh sebuah pembiasaan
mehujamkan niat, membekukan hati
dia melangkah menembus senyap malam
saat jiwa-jiwa lain terbuai mimpi. ...
berjalan seiring liuk mesra jalan pegunungan
diasapi serentetan truk penuh muatan
menuju sebuah kota harapan
harapan akan kehidupan
dan secercah terang mentari
tak ada lagi lelah menggelanyut
terhapus oleh sebuah pembiasaan
mehujamkan niat, membekukan hati
dia melangkah menembus senyap malam
saat jiwa-jiwa lain terbuai mimpi. ...
Selasa, 06 Oktober 2009
Quote
Paradok, semakin dekat hubungan semakin sulit rasa permusuhan diungkapkan, tetapi semakin lama perasaan demikian ditekan, maka semakin penting pengungkapannya demi mempertahankan hubungan itu sendiri -Lewis A. Coser-
Minggu, 13 September 2009
dia, berubah
malam membagi inspirasi....
setiap melihat malam aku akan selalu teringat kamu,
kenapa ??!
karena hanya kamu dan malam cintaku....
dewi bulan,
begitu aku biasa memanggil bidadari itu,
dengan rambut bagai tsunami di tengah pekat malam
anggun namun mematikan
jernih bola matamu tak sebanding titik-titik embun di lembayung saat pagi hari
jernih dan hitam
"lebaran ini datanglah kerumahku.."
"kenapa?"
"kukenalkan kau dengan keluarga besarku"
"...."
"knapa kau tak jawab?"
"ini terlalu cepat, tak baik"
"datanglah, dan akan ku antar kau pulang, karena aku akan memintamu dari orangtuamu untuk kujadikan istri"
"aku belum ingin menikah, aku masih punya impian..."
"tidakkah kau tahu aku mencintaimu, sangat"
"begitu juga aku, tapi kamu juga tau akan impianku akan negeri cahaya"
"datanglah, ibuku sangat menyayangimu..."
"aku juga sayang ibumu, dia wanita yang luar biasa, melahirkan dan membesarkan lelaki sepertimu yang telah membuatku jatuh cinta"
dia benar, hidupnya masih penuh dengan impian
impian akan negeri cahaya
negeri yang kemilau seakan waktu berhenti berdetak
kilau cahaya telah membuatnya berubah,
kelam rambutnya berkilau tertimpa hangat sang surya
menggeliat menyilaukan mata
matanya bagai ribuan kelip lampu kecil saat tertimpa sinar mentari
dia berubah....
dan kucoba untuk mengerti
maelihat dunia dengan tambahan satu variasi,
variasi itu tak lain ialah cahaya....
dan karena itu pulalah kutulis ini saat mentari tengah bersinar,
Sukoharjo 13 sept 2009, 9.37
setiap melihat malam aku akan selalu teringat kamu,
kenapa ??!
karena hanya kamu dan malam cintaku....
dewi bulan,
begitu aku biasa memanggil bidadari itu,
dengan rambut bagai tsunami di tengah pekat malam
anggun namun mematikan
jernih bola matamu tak sebanding titik-titik embun di lembayung saat pagi hari
jernih dan hitam
"lebaran ini datanglah kerumahku.."
"kenapa?"
"kukenalkan kau dengan keluarga besarku"
"...."
"knapa kau tak jawab?"
"ini terlalu cepat, tak baik"
"datanglah, dan akan ku antar kau pulang, karena aku akan memintamu dari orangtuamu untuk kujadikan istri"
"aku belum ingin menikah, aku masih punya impian..."
"tidakkah kau tahu aku mencintaimu, sangat"
"begitu juga aku, tapi kamu juga tau akan impianku akan negeri cahaya"
"datanglah, ibuku sangat menyayangimu..."
"aku juga sayang ibumu, dia wanita yang luar biasa, melahirkan dan membesarkan lelaki sepertimu yang telah membuatku jatuh cinta"
dia benar, hidupnya masih penuh dengan impian
impian akan negeri cahaya
negeri yang kemilau seakan waktu berhenti berdetak
kilau cahaya telah membuatnya berubah,
kelam rambutnya berkilau tertimpa hangat sang surya
menggeliat menyilaukan mata
matanya bagai ribuan kelip lampu kecil saat tertimpa sinar mentari
dia berubah....
dan kucoba untuk mengerti
maelihat dunia dengan tambahan satu variasi,
variasi itu tak lain ialah cahaya....
dan karena itu pulalah kutulis ini saat mentari tengah bersinar,
Sukoharjo 13 sept 2009, 9.37
Sabtu, 27 Juni 2009
tak mengerti
Manusia tak mengerti apa, siapa dan bagaimana dirinya.
Manusia hanya tahu bagaimna menjadi apa, siapa dan bagaimana dirinya.
Adhitya R Dharma P
Manusia hanya tahu bagaimna menjadi apa, siapa dan bagaimana dirinya.
Adhitya R Dharma P
Sabtu, 23 Mei 2009
masih
Masih pekat dalam ingatan, saat-saat senja di pantai putih
Masih saja kurasakan, tangan lembut itu menggelanyut pinggangku
Masih hangat kuucapkan, kidung-kidung asmara yang membuainya terbang
Masih sembab mata ini, saat dia melangkah pergi
Masih sama rasa ini, ketika pertama ku menjabat tangan lembutnya
Masih sakit batin ini, saat dia kembali padanya, kembali ke kehidupannya
Sudah tau aku, hasrat tuk memiliki cuma egoisme semata, karena kasih tak menuntut itu
Selamat senja dewi sintaku, dewi dunia dimana hati terlabuh
Kutunggu kau setiap matahari tenggelam, di merahnya horizon pantai senja...
Masih saja kurasakan, tangan lembut itu menggelanyut pinggangku
Masih hangat kuucapkan, kidung-kidung asmara yang membuainya terbang
Masih sembab mata ini, saat dia melangkah pergi
Masih sama rasa ini, ketika pertama ku menjabat tangan lembutnya
Masih sakit batin ini, saat dia kembali padanya, kembali ke kehidupannya
Sudah tau aku, hasrat tuk memiliki cuma egoisme semata, karena kasih tak menuntut itu
Selamat senja dewi sintaku, dewi dunia dimana hati terlabuh
Kutunggu kau setiap matahari tenggelam, di merahnya horizon pantai senja...
Langganan:
Postingan (Atom)
